Sebagai seorang muslim, kita wajib untuk menjaga interaksi kita dengan Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang ditujukan kepada kita melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa ingin selamat menuju akhirat, maka ia harus menjalani hidup sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an. Dan tidaklah seseorang dapat menjalani hidup sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an apabila ia abai terhadapnya. Berikut ini kami akan ulas mengenai tingkatan muslim dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an;

  1. Muslim yang Hanya Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an adalah tahap awal dalam bermuamalah dengan Al-Qur’an. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk rajin membaca Al-Qur’an;

اقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur`ân, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya.”

Dalam hal ini, Allah juga menjanjikan pahala bagi hambaNya yang mau membaca Al-Qur’an. Yakni, pahala huruf per huruf yang diganjar 10 kebaikan. Masya Allah, tidakkah kita tergiur dengan iming-iming pahala tersebut?

Ini barulah tingkatan pertama dalam interaksi dengan Al-Qur’an, meski ini tingkatan terendah, tapi percayalah bahwa membaca Al-Qur’an saja telah menjadikan kita banjir pahala, menjadikan kita lebih mudah untuk menyambut amal-amal kebaikan. Jangan sampai kita berpikir, untuk apa membaca Al-Qur’an kalau tidak tahu maknanya? Sungguh, mata, lisan, dan pendengaran yang digunakan untuk membaca Al-Qur’an lebih terjaga dari kemaksiatan.

  1. Muslim yang Membaca dan Mentadabburi Al-Qur’an

Tingkatan kedua, muslim yang tidak sekadar membaca tapi berusaha mengkaji, memahami, dan mempelajari pesan apa yang sebenarnya Allah sampaikan melalui Al-Qur’an. Allah telah menekankan hambaNya untuk mentadabburi Al-Qur’an sebagaimana yang termaktub dalam ayat berikut;

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`ân, ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

 

Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)

Al-Qur’an sejatinya adalah pedoman hidup, bukan sekadar bacaan belaka. Maka, alangkah pentingnya bagi kita untuk mentadabburi Al-Qur’an. Agar kita tahu, apa yang sebenarnya Allah inginkan terhadap kita? Apa yang Allah ridhoi, apa yang Allah murkai? Apa yang Allah perintahkan dan apa yang Allah larang? Semuanya dapat kita ketahui dengan mentadabburi Al-Qur’an. Mentadabburi Al-Qur’an menjadikan bacaan kita lebih mengena. Ketika membaca ayat azab, kita menangis. Ketika membaca ayat nikmat, kita memohon. Ketika membaca tentang kiamat, kita gemetar. Sungguh, dengan mentadabburi Al-Qur’an, niscaya Al-Qur’an itu lebih membekas dalam hati dan pikiran kita.

  1. Muslim yang Membaca, Mentadabburi, serta Menghafal Al-Qur’an

Tingkatan ketiga, muslim yang tidak hanya membaca dan mentadabburi, tapi juga berusaha untuk menghafal Al-Qur’an. Tingkatan ini, tentu lebih mulia dari tingkatan sebelumnya. Sungguh, hati yang di dalamnya tidak ada hafalan Al-Qur’an seperti rumah yang kosong lagi rusak. Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan kemuliaan seseorang yang menghafalkan Al-Qur’an melalui hadits RasulNya yang mulia;

يَجِىءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً

Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz al-Quran mahkota kemuliaan. Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca. (HR. Turmudzi 3164 dan beliau menilai Hasan shahih).

  1. Muslim yang Membaca, Mentadabburi, Menghafal, dan Mengamalkan Al-Qur’an

Tingkatan keempat, disamping membaca, tadabbur, dan menghafal, ia juga berusaha untuk mengamalkan apa-apa yang diketahuinya dari Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah sebaik-baik ilmu pengetahuan. Jika ilmu diibaratkan dengan pohon, maka amal adalah buahnya. Jadi, jika ada seseorang yang memiliki banyak ilmu tapi tidak pernah mengamalkannya, ia seperti pohon yang tidak menghasilkan buah apa-apa. Sebaik-baik manusia adalah yang berilmu, sebaik-baik yang berilmu adalah yang beramal, dan sebaik-baik yang beramal adalah yang ikhlas. Oleh karena itu, sebaik-baik orang yang mempelajari Al-Qur’an adalah ia yang mengamalkannya.

  1. Muslim yang Membaca, Mentadabburi, Menghafal, Mengamalkan serta Mengajarkan Al-Qur’an

Inilah tingkatan terbaik dalam interaksi dengan Al-Qur’an. Ketika seseorang mengetahui sesuatu dari Al-Qur’an walau hanya 1 ayat, maka sampaikanlah! Lazimnya, seorang manusia itu tidak mampu menyembunyikan rasa takjubnya, ketika ia menemukan kenikmatan terhadap sesuatu, dia pasti akan mensyiarkannya. Contoh, apabila kita menyicipi bakso yang menurut kita sangat nikmat di suatu restoran, maka kita pasti akan menceritakan hal tersebut kepada orang lain. Kita dengan senang hati akan menceritakan keunggulan rasa bakso restoran tersebut dibanding bakso-bakso yang lain. Dan ketahuilah bahwa Al-Qur’an adalah wahyu sekaligus mukjizat yang Allah berikan ke umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang keindahannya tiada banding, yang kemuliaannya tak terkira, yang menakjubkan lagi sempurna, maka mengapakah kita hanya diam dan tak tergerak untuk mensyiarkannya? Apa Al-Qur’an tidak lebih menarik untuk disyiarkan dibanding bakso suatu restoran?

 

Demikianlah tingkatan muslim dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an yang Allah mudahkan kami untuk menyampaikannya. Semoga Allah bombing kita untuk senantiasa meningkatkan interaksi kita dengan Al-Qur’an. Aamiin Allahumma Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *