ayat kursi

Oleh: Ustadz Hasan Al Jaizy

Untuk Naum [نوم] dan Sinah [سنة], kita bisa dapatkan keduanya di Ayat Kursi, yaitu pada kalimat berikut:

لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌۭ وَلَا نَوْمٌۭ

“(Allah) tidak mengantuk dan tidak tidur” [Q.S. Al-Baqarah]

Adapun Nu’as [نعاس], kita bisa dapatkan di ayat berikut:

ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّنۢ بَعْدِ ٱلْغَمِّ أَمَنَةًۭ نُّعَاسًۭا يَغْشَىٰ طَآئِفَةًۭ مِّنكُمْ

“Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu.” [Q.S. Ali Imran: 154]

Untuk Naum, kita kenal artinya tidur. Namun untuk Sinah dan Nu’as, biasa kita terjemahkan menjadi ‘kantuk’. Apakah tiada beda antara Sinah dan Nu’as? Atau ada perbedaan?

Abu al-Abbas al-Fayumy (w. 770 H), ketika menjelaskan lafal-lafal gharib dalam kitab besar Fiqh Syafi’i karya ar-Rafi’iy (asy-Syarh al-Kabir), mengumpulkan beberapa pandangan ulama mengenai ketiga lafal tersebut. Beliau pun menyebutkan adanya pandangan ulama akan perbedaan antara ketiganya. Dikatakan oleh beliau:

وَقِيلَ النَّوْمُ مُزِيلٌ لِلْقُوَّةِ وَالْعَقْلِ وَأَمَّا السِّنَةُ فَفِي الرَّأْسِ وَالنُّعَاسُ فِي الْعَيْنِ

“Dikatakan (oleh sebagian ulama) Naum (tidur) itu yang menghilangkan kekuatan dan akal, adapun Sinah, ia ada di kepala dan Nu’as, ia ada di mata.” [al-Mishbah al-Munir fi Gharib asy-Syarh al-Kabir, 2/631]

Jika kita refleksikan perbedaan antara Sinah dan Nu’as, maka kita dapatkan bahwa paling awal gejala adalah Sinah, kemudian Nu’as. Hal itu dikuatkan oleh pendapat sebagian ulama:

السِّنَةُ رِيحُ النَّوْمِ تَبْدُو فِي الْوَجْهِ ثُمَّ تَنْبَعِثُ إلَى الْقَلْبِ فَيَنْعَسُ الْإِنْسَانُ فَيَنَامُ

“Sinah adalah gelagat tidur yang muncul di wajah, kemudian sampai ke jantung, sehingga manusia pun mengantuk, lalu tertidurlah ia.” [al-Mishbah]

Dalam ayat Kursi, Allah menafikan dua sifat yang bertentangan dengan sifat al-Hayat (kehidupan), yaitu sifat Sinah dan sifat Naum. Keduanya tidak ada pada Rabbul Alamin. Kedua sifat tersebut melazimkan kekurangan, sementara segala sifat Allah Ta’ala sempurna tanpa ada cacat dan kekurangan. Al-Hayat yang sempurna dan al-Qayyumiyyah yang sempurna tidak akan beriringan dengan sifat awal kantuk apalagi tidur.

Sifat al-Hayat milik Allah tanpa cacat sedikitpun. Kesempurnaannya diketahui dengan kenyataan bahwa keamaha-hidupan Allah tidak diawali dengan ketiadaan, tidak pernah mengantuk apalagi tidur, dan tidak diakhiri dengan kematian. Berbeda dengan sifat al-Hayat milik makhluk. Allah tegaskan sendiri penafian tersebut dalam Ayat Kursi.

Sifat al-Qayyumiyyah, yang diterjemahkan umumnya di Indonesia secara tafsiran dengan makna ‘Yang Maha Mengurusi makhluk-Nya secara terus-menerus’, adalah sifat yang sempurna, tanpa kekurangan atau cacat. Kesempurnaanya diketahui dengan kenyataan bahwa Allah tidak pernah mengantuk terlebih tidur.

Ketika kita tahu bahwa Sinah pada konteks makhluk adalah gejala atau gelagat paling awal menuju tidur, maka ia barulah hal kecil. Belum sampai Nu’as. Karena Nu’as itu di mata. Sementara Sinah sebelumnya.

Setitik pun kelalaian menuju pejaman mata (walau mata belum berat), maka itu dalam konteks makhluk, disebut ‘Sinah’. Dan kelalaian setitik itu tidak ada pada Allah!

Artinya:

۞ وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍۢ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍۢ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍۢ مُّبِينٍۢ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).” [Q.S. Al-An’am: 59]

Semoga Allah Ta’ala merizkikan kita ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *